Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,338 • USD → IDR Beli: 13,352
  • EUR → IDR Jual: 14,126 • EUR → IDR Beli: 14,145
  • HKD → IDR Jual: 1,718 • HKD → IDR Beli: 1,720
  • JPY → IDR Jual: 117 • JPY → IDR Beli: 117
  • AUD → IDR Jual: 10,210 • AUD → IDR Beli: 10,226
  • SGD → IDR Jual: 9,371 • SGD → IDR Beli: 9,387
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 523,000
  • Perak Jual → 10,900
  • Update Tanggal 07-03-2017

Industri Kecil Garam Berhenti Operasi

Home / Ekonomi / Industri Kecil Garam Berhenti Operasi
Industri Kecil Garam Berhenti Operasi Petani garam di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu memperbaiki kincir angin di tambak garamnya. (Foto: Putera Khafi/TIMES Indonesia).

TIMESINDONESIA, PAMEKASAN – Krisis garam di Madura menjalar ke industri kecil menengah (IKM). Sejumlah IKM di Kabupaten Pamekasan tidak beroperasi. Alasannya mereka kehabisan bahan baku untuk diproduksi. Karyawan mereka juga sementara waktu dirumahkan sambil menunggu musim panen garam tiba.

Fathorrahim, salah satu pemilik IKM di Desa Lembung, Kecamatan Galis menuturkan, sudah hampir sebulan tidak memproduksi garam konsumsi beryodium untuk dijual ke masyarakat. Bahan baku garam rakyat sudah habis.

"Petani sudah tidak punya garam lagi. Gudang penyimpananpun sudah melompong," kata Fathorrahim, Jumat (28/7/2017). Fathor menambahkan, meskipun stok garam di petani ada, mereka enggan untuk menjualnya kepada pengusaha kecil.

Sebab dijual ke makelar garam harganya lebih menjanjikan. Sedangkan di pengusaha kecil hanya mampu membeli sesuai dengan ketentuan dari pemerintah. "Saya hanya mampu membeli Rp 750.000 per kwintal. Sedangkan makelar sudah mampu membeli garam petani sampai Rp 3.500.000 per kwintalnya," imbuh Fathor.

Krisis garam di Madura kata Fathor, tidak lepas dari pengaruh musim yang terjadi selama dua tahun berturut-turut. Tahun lalu musim kemarau hanya berlangsung sekitar tiga bulan. Sedangkan tahun ini semakin tidak menentu.

"Tahun saja produksi garam sedikit. Tahun ini kemungkinan lebih parah lagi karena anomali cuaca yang sulit untuk diprediksi," ungkapnya.

Di tengah situasi mahalnya garam, petani kurang menikmati dampaknya. Sebab garam mereka sudah dibeli makelar jauh-jauh hari sebelumnya dengan cara ditimbun di gudang-gudang makelar.

"Tahun kemarin harga garam masih Rp 500.000 sampai Rp 750.000 per kwintalnya sudah diborong makelar semua. Jadi petani hanya mendengar cerita saja," tandasnya. (*)

Berita Terkait

Komentar

301 Moved Permanently

Moved Permanently

The document has moved here.

Terpopuler

Top
Wawanita.com satriamedia.com